Home / Berita Event dan Kesehatan

BPK Berharap RS di Indonesia Bisa Mengimplementasikan Manajemen Resiko dan Problem Solving

Kamis | 18 Mei 2017 | 14:42:01 WIB
BPK Berharap RS di Indonesia Bisa Mengimplementasikan Manajemen Resiko dan Problem Solving FOTO | ISTIMEWA

jaknewsonline.com — JAKARTA, Pentingnya manajemen resiko di Rumah Sakit (RS) adalah salah satu elemen penting dalam menjalankan bisnis jasa RS, karena semakin berkembangnya dunia RS serta meningkatnya kompleksitas efektibitas pelayanan mengakibatkan meningkatnya tingkat resiko yang di hadapi Rumah Sakit.

Menyikapi hal tersebut, Sprint Consultant bersama Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKM UI) bekerjasama dalam penyelenggaraan problem solving workshop dan manajemen resiko selenggarakan Simposium Nasional Manajemen Resiko dengan tema "Risk Management and Problem Solving for Quality Hospitals as an Instrument to Ensure Hospital Profitability in the JKN Area".

Simposium Nasional yang digelar di Hotel Bidakara pada Kamis, 18 Mei 2017 ini dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari Praktisi Rumah Sakit seluruh Indonesia, Akademisi/ Peneliti Perumahsakitan, Mahasiswa Administrasi dan Manajemen Rumah Sakit dan Pemerhati Perumahsakitan.

"Simposium Nasional ini diselenggarakan dengan tujuan untuk membahas peningkatan mutu Rumah Sakit dalam pengelolaan resiko, penerapan akteditasi rumah sakit dan peningkatan kinerja rumah sakit," ujar Ketua Pelaksana Simposium, Dra Diana Susianti Moro.

Diana berharap, pada kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak perbaikan dan penguatan mutu layanan Rumah Sakit di Indonesia di era program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Simposium dibuka dengan pemaparan pentingnya manajemen Resiko sebagai solusi dari berbagai persoalan yang menjadi temuan Auditor BPK di Rumah Sakit oleh Wakil Ketua BPK RI Prof. Dr. Bahrullah Akbar, MBA.

"Berdasarkan Identifikasi temuan oleh BPK dari tahun 2012, terdapat beberapa temuan yang penting dan berdampak pada kas negara yaitu adanya kekurangan dan kelebihan pembayaran di Rumah Sakit, ditemukannya ketidakefektifan kinerja 19 RSUD yang terkait dengan kurang memadainya pengkajian resep, dan penyiapan serta pendistribusian obat. Di sisi lain temuan yang di dapat di 3 RSUP yaitu terdapat pengadaan barang yang tidakdipergunakan," paparnya.

Dia berpendapat apabila RS di Indonesia bisa mengimplementasikan manajemen risiko dan problem solving maka akan sangat membantu kinerja BPK.

Simposium juga di hadiri oleh Barry Smith, MD, PhD sebagai Direktur dari Dreyfus Foundation New York USA sebagai induk dari PSQH di Indonesia yang sudah berhasil membantu ratusan RS di Dunia untuk menyelesaikan persoalan mereka masing-masing.

Para pakar yang turut memberikan paparannya dalam acara ini yaitu Prof. dr. Alex Papilaya, DTPH sebagai founder of PSQH Indonesia, dr. Kuntjoro, M.Kes. sebagai Ketua PERSI, dr. Adib Yahya, MARS sebagai Ketua PERMAPKIN, Dr. dr. Supriyantoro, SpP, MARS sebagai Ketua IKKESINDO, Dr. Hermawan Saputra, MARS sebagai Koordinator PSQH P3M UI dan juga lesson learn tentang PSQH dan Risk Management dari Direktur RSHJ dan VP Pertamedika.

Para pakar tersebut secara prinsip menyampaikan:

1. Pentingnya Manajemen Risiko di RS sebagai salah satu elemen penting dalam menjalankan bisnis jasa Rumah Sakit, karena semakin berkembangnya dunia Rumah Sakit serta meningkatnya kompleksitas aktivitas pelayanan mengakibatkan meningkatnya tingkat risiko yang dihadapi Rumah Sakit.

2. Pentingnya Pendekatan Pemecahan Masalah melalui Program Problem Solving for Quality Hospitals untuk di aplikasikan di Rumah Sakit di Indonesia.

3. Sasaran utama Kendali Resiko dan PSQH adalah untuk melindungi Rumah Sakit terhadap kerugian yang mungkin timbul, meningkatkan kinerja, efisiesi dan menyeimbangkan antara strategi bisnis dengan pengelolaan bisnis sehingga Rumah Sakit akan mendapatkan hasil optimal dari operasionalnya.



Penulis:
Editor: Redaksi