Home / Berita Pendidikan

Rektor Unindra : Tangkal Radikalisme dan Intoleran, setiap mahasiswa dibekali ilmu agama dan akhlak

Jumat | 29 November 2019 | 11:49:35 WIB
Rektor Unindra : Tangkal Radikalisme dan Intoleran, setiap mahasiswa dibekali ilmu agama dan akhlak FOTO | ISTIMEWA

jaknewsonline.com — JAKARTA, Dalam struktur masyarakat kita, kaum intelektual seperti mahasiswa memiliki peran strategis dalam perubahan sosial. Menjadi ancaman serius, jika kaum intelektual yang menjadi motor perubahan sosial itu justru terpapar ideologi radikal.

Oleh karena itu, saat mahasiswa berada di kampus tempat mereka belajar mendapatkan ilmu, harus juga dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman Pancasila dan kewarganegaraan serta pengetahuan agama, etika dan akhlak.

Saat ditemui wartawan, Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Prof Dr H Sumaryoto angkat bicara dalam menyikapi hal tersebut yakni terus berusaha agar perguruan tinggi (PT) yang dipimpinnya untuk aktif membentengi diri dari ancaman intoleransi dan radikalisme. Perguruan tinggi harus bisa menjadi tempat mengukuhkan pemahaman Pancasila dan kewarganegaraan kepada mahasiswa dan ini pilar yang harus dipertahankan.

"Awal pada saat penerimaan mahasiswa baru, melalui program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sudah dibekali dengan pengetahuan tentang wawasan/pemahaman Pancasila dan bagaimana membentengi dari radikalisme dan intoleran, agar upaya pencegahan tersebut lebih mudah dilaksanakan.

"Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa wajib memiliki wawasan kebangsaan sebagai benteng dari paham yang tidak sesuai Pancasila. Dan Alhamdulillah, memasuki usia ke 15 tahun ini, di Unindra sebagai institusi pendidikan tidak ada tindakan nyata yang mengarah radikalisme. Mungkin bisa saja itu ada tapi hanya wacana dan pemikiran saja," ujar Sumaryoto, Jumat (29/11/2019).

Sumaryoto juga menegaskan, mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang turut membawa arus nilai-nilai asing termasuk radikalisme. Karenanya, penguatan nilai-nilai kebangsaan di perguruan tinggi wajib dilakukan sebagai upaya mencegah radikalisme.

"Mudah-mudahan di era globalisasi ini, mahasiswa Unindra tidak terkontaminasi. Kami berusaha dan melakukan pembekalan kepada mahasiswa dengan pengetahuan agama, etika dan akhlak. Ini mudah-mudahan dapat mencounter pengaruh-pengaruh dari hal tersebut," ujarnya.

Dirinya mengakui, saat ini terdapat persepsi perguruan tinggi menjadi tempat penyebaran sikap intoleransi. Hal itu menimbulkan keprihatinan mengingat kampus seharusnya menjadi tempat membuka wawasan kebangsaan, pergaulan yang inklusif bukan ekslusif, dan tempat ilmu pengetahuan dikembangkan.

"Yang jelas tidak boleh ada radikalisme di kampus. Masalah intoleransi dan munculnya ujaran kebencian di media sosial juga harus disikapi dengan bijak," ucapnya.

Ia menambahkan kampus idealnya harus bisa mengatasi isu intoleransi serta radikalisme dan fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan Iptek. Pasalnya, perguruan tinggi menjadi salah satu tempat yang memegang peranan besar dalam penyiapan SDM unggul untuk masa depan mahasiswanya.

"Iptek menjadi salah satu yang harus dikuasai generasi mendatang. Cara berpikir yang ilmiah dan penguasaan teknologi akan membuat generasi muda Indonesia diperhitungkan masyarakat dunia," imbuh rektor.

Uploader : Is.Idris



Penulis:
Editor: Redaksi