Home / Berita Nasional dan Daerah

Cegah Meluasnya Penyebaran Hoaks, Indonesia GAGAH Siap Bantu Polisi

Rabu | 14 Maret 2018 | 19:10:21 WIB
Cegah Meluasnya Penyebaran Hoaks, Indonesia GAGAH Siap Bantu Polisi FOTO | ISTIMEWA

jaknewsonline.com — JAKARTA, Fenomena Hoaks atau Berita Bohong tanpa disadari sudah banyak menjadi sebuah isu yang meresahkan dan mengancam ketertiban situasi negara, bahkan sudah banyak korban dari dampak Hoaks seperti instansi, tokoh-tokoh dan elemen bangsa.

Menyikapi hal tersebut, dalam konferensi pers, Nanang Qosim selaku Koordinator Nasional Indonesia Gabungan Gerakan Anti Hoaks (GAGAH) menyatakan perang terhadap pelaku hoaks atau berita bohong.

"Kami menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan media sosial dan jejaring sosial secara cerdas dan cermat. Say No to Hoax," tegas Nanang Qosim di Kedai Kopi Lagenda, Tebet Jakarta Selatan, Rabu (14/3/18).

Dalam kegiatan yang bertema "Pelaku Hoaks adalah Manusia Anti Pancasila”, Nanang juga menyerukan kepada aparat berwenang untuk lebih cepat dan tepat merespon berita-berita hoaks yang mengancam keutuhan NKRI.

"Kami siap berkerjasama dengan kepolisian RI dan lembaga terkait untuk melakukan pencegahan meluasnya penyebaran hoaks," ujarnya.

Nanang menambahkan, tidak ada hoaks yang positif, karena hoaks itu berita bohong yang bermaksud jahat. Banyaknya hoaks beredar melalui media massa dan jejaring sosial yang telah berdampak signifikan, karena pengguna media sosial tidak mengetahui secara benar dan akurat terhadap suatu berita. Tetapi pengguna media sosial sudah membenarkan berita tersebut dengan cara ikut menyebarkan kembali. Sedangkan pembuat hoaks, kemungkinan tidak berpikir dampak yang diakibatkannya.

Kembali dijelaskan, kadang tanpa sadar penyebaran konten hoaks sangat menyakinkan, apalagi disertai data yang terlihat akurat, pengguna media sosial yang tidak berpikir kritis meramu berita hoaks untuk disebarkan kembali, akhirnya diseminasi hoax diterima khalayak ramai.

"Hoaks telah melenyapkan nalar publik terhadap situasi yang semestinya berlaku, kemungkinan penyebar dan pembuat hoaks tidak berpikir bahwa negara ini harus dirawat dengan penuh kehati-hatian, karena sifat kemajemukan bangsa ini, sangat rentan terhadap sebuah isu yang berakibat kerusuhan atau kekacauan dalakehidupasosial,”"""paparnya.

Dikatakan Nanang, adakala penyebaran berita hoaks atas dasar kepentingan elit politik tertentu untuk memenangkan kelompoknya dalam lingkup pemerintahan baik skala kecil maupun luas, sebenarnya bermaksud merebut dukungan publik, namun sering berdampak memecah belah persatuan baik dalam lingkup kecil maupun negara yang sudah terjalin dalam prinsip keberagaman dengan nilai dan norma yang telah disetujui bersama oleh seluruh konponen bangsa Indonesia.

‘Tidak dapat dipungkiri negara ini bisa hancur hanya dengan sebuah berita hoaks yang terus menerus disebar, apalagi terkait dengan etnis dan kepercayaan yang berbeda,” kata dia lagi.

Lebih lanjut, Nanang Qosim menyayangkan jika publik terus menerus disuguhi isu-isu yang berisi kebencian terhadap ras, etnis, dan kepercayaan tertentu yang bisa memancing kekisruhan dalam kehidupan masyarakat. Katanya, sangat memungkinkan akibatnya akan merontokkan segala sesuatu kekuatan bangsa ini sampai hancur sehancur sehingga anak cucu tidak pernah mengenal Indonesia sebagai bangsa yang besar dan hebat.

“Hoaks itu tidak terbantahkan dilakukan oleh pengiat media sosial demi keuntungan secara finansial maupun menarik perhatian publik, dengan cara memanfaatkan ketidaktahuan dan ketidakpedulian publik untuk memeriksa akurasi berita. Kemudian sejalan dengan waktu penyebaran berita hoaks meluas kadang kala memercik api kebencian sesama anak bangsa. Indonesia dengan keberagaman ras, etnis, dan kepercayaan sangat rentan untuk kerusuhan atau kekacauan hanya dengan "hoaks" yang tidak begitu penting tersebar secara luas dan terbuka,” tuturnya.

Sementara, Pengamat Media Ali Sodiqin memberikan apresiasi kepada aparat penegak hukum yang telah merespons fenomena hoaks yang meresahkan publik.

“Kita akui kemunculan fenomena penyerangan ulama yang beredar adalah berita bohong. Dan yang fakta hanya ada beberapa kejadian, namun secara garis besar hoaks,” ujar Ali.

Masih katanya, dia meminta masyarakat untuk bersama-sama selektif dan sadar akan literasi media agar tidak sembarangan menyebarkan berita sampah yang tidak jelas sumbernya.

“Masyarakat luas agar selektif dan tidak mudah menyebarkan berita bohong. Semoga fenomena ini bisa dikurangi agar tidak menimbulkan kegaduhan yang lebih luas lagi,” tutupnya. (is/rk)



Penulis:
Editor: Redaksi